Borneoinsight.com, Samarinda – Pemerintah Kota Samarinda memperingati Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026 dengan menggelar serangkaian kegiatan yang berfokus pada upaya pelestarian lingkungan sekaligus peningkatan kesadaran masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan Insinerator Kampung Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang, Selasa (30/6/2026).
Peringatan tahun ini mengangkat tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, yang menjadi ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk mengambil langkah konkret dalam menjaga kelestarian lingkungan. Tema tersebut juga menegaskan bahwa persoalan iklim membutuhkan kolaborasi semua pihak, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata.
Berbagai kegiatan digelar dalam momentum tersebut sebagai bentuk implementasi kepedulian terhadap lingkungan. Mulai dari program penukaran sampah dengan paket sembako, penanaman pohon di sejumlah titik, hingga peresmian Tempat Penampungan Sementara (TPS) terpilah yang diharapkan mampu meningkatkan pengelolaan sampah secara lebih efektif.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan bahwa perubahan iklim kini bukan lagi sekadar prediksi atau ancaman yang akan terjadi di masa mendatang. Menurutnya, berbagai dampak yang muncul telah dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dan membutuhkan respons yang serius.
Ia menjelaskan, perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu menjadi salah satu indikator nyata terjadinya krisis iklim. Intensitas hujan yang tinggi, peningkatan suhu udara, banjir, tanah longsor, hingga kekeringan merupakan fenomena yang semakin sering terjadi di berbagai wilayah.
Menurut Andi Harun, kondisi tersebut menjadi tantangan bersama yang harus dihadapi melalui langkah-langkah nyata dan berkelanjutan. Pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat memiliki peran penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim melalui kebijakan maupun perubahan perilaku sehari-hari.
Ia juga menyoroti berbagai fenomena cuaca ekstrem yang melanda sejumlah negara sebagai gambaran bahwa krisis iklim telah menjadi persoalan global. Berbagai kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa tidak ada wilayah yang sepenuhnya terbebas dari ancaman perubahan iklim.
Sebagai contoh, Andi Harun menyampaikan bahwa beberapa negara di kawasan Eropa saat ini tengah menghadapi gelombang panas ekstrem. Bahkan, suhu udara di sejumlah wilayah dilaporkan mencapai kisaran 48 hingga 50 derajat Celsius, kondisi yang dinilai semakin memperlihatkan eskalasi dampak pemanasan global.
Menurutnya, berbagai fenomena tersebut harus menjadi pembelajaran bagi pemerintah daerah agar lebih siap dalam menyusun kebijakan pembangunan yang memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Upaya mitigasi maupun adaptasi terhadap perubahan iklim perlu menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah.
Andi Harun mengatakan bahwa dinamika global, baik yang berkaitan dengan perubahan iklim maupun perkembangan geopolitik dunia, memiliki pengaruh terhadap berbagai kebijakan di tingkat daerah. Oleh sebab itu, pemerintah daerah dituntut mampu membaca perkembangan tersebut sebagai dasar dalam menentukan arah pembangunan.
Ia menilai, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global menjadi salah satu faktor penting agar daerah tetap mampu menjaga ketahanan lingkungan sekaligus mempertahankan kualitas hidup masyarakat di tengah berbagai tantangan yang terus berkembang.
Selain memperkuat kebijakan, Wali Kota juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan budaya peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran tersebut dinilai menjadi fondasi utama dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
Menurutnya, menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial yang hanya berlangsung pada momen tertentu. Dibutuhkan komitmen jangka panjang melalui tindakan sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Program penukaran sampah dengan sembako dan pengoperasian TPS terpilah yang diperkenalkan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026 diharapkan dapat menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular sekaligus mendorong masyarakat agar lebih bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah.
Melalui berbagai program tersebut, Pemerintah Kota Samarinda berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan terus meningkat. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.
Momentum Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026 pun diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan semata, melainkan menjadi titik awal untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan kota yang lebih hijau, bersih, tangguh, dan berkelanjutan bagi generasi yang akan datang. (Sin)












