SAMARINDA – BorneoInsight.com — Sebanyak 1.202 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Kalimantan Timur pada Kamis, 20 Agustus 2026. Berdasarkan hasil pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan selama periode pukul 01.00 hingga 24.00 WITA, Kabupaten Berau menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak.
Dari total tersebut, Kabupaten Berau mencatat 619 titik panas, disusul Kutai Timur sebanyak 314 titik, Kutai Kartanegara 135 titik, Kutai Barat 84 titik, dan Paser 42 titik.
Sementara itu, titik panas juga terpantau di Balikpapan dan Penajam Paser Utara masing-masing sebanyak tiga titik, serta Bontang dua titik. Adapun Samarinda dan Mahakam Ulu tidak terdeteksi adanya titik panas.
Peningkatan jumlah hotspot tersebut menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta munculnya kabut asap. Namun, hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak selalu menunjukkan terjadinya kebakaran. Karena itu, diperlukan verifikasi langsung di lapangan.
Di sejumlah wilayah Kalimantan Timur, kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan terjadi dengan luasan yang cukup signifikan.
Di Kota Samarinda, beberapa kejadian kebakaran lahan tercatat dengan luas mulai sekitar 200 meter persegi hingga 3.000 meter persegi. Selain itu, kebakaran permukiman di kawasan Loa Bahu menghanguskan dua bangunan dan berdampak terhadap tiga kepala keluarga atau sembilan jiwa. Dalam peristiwa tersebut tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun luka.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara, tepatnya di wilayah Sangasanga Muara, Muara Kembang, dan Desa Kayu Batu. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 2 hingga 2,5 hektare di setiap lokasi.
Sementara di Penajam Paser Utara, kebakaran lahan di RT 03 Kelurahan Sepan, Kecamatan Penajam, menghanguskan sekitar 10,65 hektare lahan mineral yang ditumbuhi semak dan pepohonan. Api secara visual telah padam, namun petugas masih menemukan bara dan titik asap sehingga proses pengecekan serta pendinginan kembali dilakukan.
Di Kabupaten Kutai Barat, karhutla dilaporkan terjadi di Muara Nyahing dengan luas sekitar 10 hektare, Ngenyan Asa sekitar 0,5 hektare, serta Kampung Empas sekitar 4 hektare. Proses penanganan di sejumlah lokasi menghadapi kendala, mulai dari kondisi medan, keterbatasan sumber air, karakteristik lahan gambut hingga asap.
Adapun di Kabupaten Paser, kebakaran terjadi di lima lokasi, yakni Tepian Batang, Pulau Rantau, Jone, Busui, dan Petangis, dengan total luas lahan terdampak sekitar 25,29 hektare. Sebagian besar lokasi telah tertangani, namun masih terdapat titik yang terus dipantau petugas.
Pusdalops PB BPBD Provinsi Kalimantan Timur mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca dan lingkungan yang kering. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran hutan, lahan maupun sampah secara sembarangan.
Apabila menemukan titik api, kepulan asap, atau indikasi kebakaran lahan, masyarakat diminta segera melaporkan kepada BPBD, pemadam kebakaran, pemerintah desa atau kelurahan, maupun petugas terdekat.
Waspada karhutla, cegah api sebelum menjadi bencana. (A.m)












