Borneoinsight.com, Jakarta – Penurunan harga sejumlah komoditas pangan kembali terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena dipengaruhi oleh perubahan pola permintaan selama masa libur sekolah, ketika operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sementara waktu dihentikan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa berkurangnya aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyebabkan kebutuhan terhadap beberapa bahan pangan, terutama telur ayam dan daging ayam, mengalami penurunan. Dampaknya, harga kedua komoditas tersebut ikut terkoreksi di tingkat pasar.
Berdasarkan hasil pemantauan Kementerian Perdagangan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga sejumlah bahan pangan strategis saat ini masih berada di bawah batas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Situasi tersebut menunjukkan pasokan kebutuhan pokok masih dalam kondisi mencukupi.
Temuan serupa juga diperoleh saat Menteri Perdagangan melakukan inspeksi ke salah satu pasar tradisional di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dalam kunjungan tersebut, harga telur ayam ras maupun daging ayam terpantau lebih rendah dibandingkan harga acuan yang berlaku.
Selain dipengaruhi oleh menurunnya permintaan dari program MBG, pemerintah menilai produksi telur dan daging ayam yang meningkat turut menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan di pasar. Ketidakseimbangan antara jumlah produksi dan tingkat konsumsi membuat harga bergerak turun dalam beberapa waktu terakhir.
Untuk mengantisipasi dampak terhadap peternak, Kementerian Perdagangan mulai mengambil langkah strategis dengan mendorong peningkatan penyerapan komoditas unggas di dalam negeri. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi keberlangsungan usaha para pelaku peternakan.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengajak pelaku usaha di sektor hotel, restoran, dan katering atau horeka agar memperbesar penggunaan telur serta daging ayam produksi lokal. Pemerintah berharap sektor tersebut mampu menjadi alternatif pasar yang dapat menyerap kelebihan pasokan dari peternak.
Di samping memperkuat pasar domestik, pemerintah juga berupaya membuka akses perdagangan ke pasar internasional. Singapura menjadi salah satu negara yang sedang dijajaki sebagai tujuan ekspor telur ayam Indonesia guna mengurangi surplus produksi di dalam negeri.
Meski peluang ekspor dinilai cukup terbuka, realisasinya masih menghadapi tantangan. Hingga saat ini, pemerintah masih berupaya menemukan mitra dagang yang bersedia menjalin kerja sama sehingga proses ekspor dapat segera diwujudkan melalui skema business matching dengan calon pembeli luar negeri.
Pemerintah optimistis bahwa kombinasi antara peningkatan penyerapan pasar domestik dan pembukaan akses ekspor akan mampu menjaga keseimbangan pasokan serta harga komoditas pangan. Langkah tersebut juga diharapkan dapat memberikan kepastian usaha bagi peternak sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat tetap tersedia dengan harga yang terjangkau. (Sin)












