Samarinda – BorneoInsight.com – Gemerlap lampu panggung dan antusiasme masyarakat mewarnai pembukaan Kala Fest 2026 yang digelar di kawasan Islamic Center Samarinda, Jumat malam (8/5/2026). Festival ekonomi syariah terbesar di Kalimantan Timur itu kembali hadir membawa semangat penguatan industri halal sekaligus memperluas literasi ekonomi berbasis syariah di tengah masyarakat.
Sejak sore hari, ribuan pengunjung mulai memadati area acara. Berbagai pertunjukan budaya dan hiburan islami disuguhkan untuk menyambut pembukaan festival, mulai dari tari kreasi daerah, pertunjukan busana muslim, hingga penampilan seni religi yang memeriahkan suasana malam di Kota Tepian.
Kala Fest 2026 menjadi ajang sinergi antara Bank Indonesia, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah Kalimantan Timur, serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam mempercepat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di wilayah Kalimantan Timur.
Tahun ini menjadi penyelenggaraan ketiga sejak Kala Fest pertama kali diperkenalkan pada 2024. Kegiatan tersebut juga masuk dalam rangkaian menuju Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia atau FESyar KTI yang dijadwalkan berlangsung di Mataram.
Direktur Eksekutif KDEKS Kalimantan Timur, Muhammad Edwin, mengatakan perkembangan ekonomi syariah Indonesia saat ini menunjukkan tren yang semakin kuat. Ia menyebut Indonesia kembali mampu mempertahankan posisi tiga besar dunia dalam sektor ekonomi syariah berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy Report 2024–2025.
Menurut Edwin, pencapaian tersebut lahir dari pertumbuhan berbagai sektor halal nasional, mulai dari industri makanan dan minuman halal, keuangan syariah, wisata ramah muslim, hingga perkembangan industri modest fashion dan produk kosmetik halal.
Ia menilai Kalimantan Timur memiliki peluang besar untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan tersebut, terutama dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk dan layanan berbasis syariah.
Tak hanya itu, Kalimantan Timur juga dinilai berhasil menunjukkan kontribusi nyata di sektor industri halal. Salah satunya melalui raihan penghargaan Indonesia Halal Industry Award (IHIA) 2025 yang menjadi bukti berkembangnya ekosistem halal di daerah.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, menegaskan bahwa pelaksanaan Kala Fest bukan sekadar agenda seremonial tahunan, tetapi menjadi bagian dari strategi memperkuat ekonomi syariah secara berkelanjutan.
Ia mengatakan penguatan ekonomi syariah tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan kolaborasi lintas sektor. Karena itu, tema yang diusung tahun ini menitikberatkan pada pentingnya sinergi dan transformasi digital dalam memperluas akses ekonomi syariah kepada masyarakat.
Menurut Jajang, digitalisasi menjadi salah satu kunci penting untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha halal, khususnya UMKM, agar mampu berkembang lebih luas di tengah perubahan pola ekonomi modern.
Pembukaan Kala Fest 2026 dilakukan langsung oleh Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terus konsisten mendorong penguatan ekonomi syariah di daerah.
Seno Aji menyebut ekonomi syariah dapat menjadi salah satu penopang baru perekonomian Kalimantan Timur di tengah tantangan sektor pertambangan dan industri ekstraktif. Menurutnya, sektor halal memiliki potensi besar dalam membuka lapangan pekerjaan sekaligus memperkuat peran UMKM lokal.
Ia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menerbitkan lebih dari 14 ribu sertifikat halal gratis sepanjang tahun ini. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produk usaha lokal menjelang penerapan wajib halal secara nasional pada Oktober 2026.
Selama pelaksanaan festival, masyarakat disuguhkan beragam agenda menarik, di antaranya tabligh akbar bersama Ustaz Maulana, penampilan religi dari Haddad Alwi, pameran UMKM halal, seminar ekonomi syariah, talkshow gaya hidup halal, pelatihan barista, kompetisi kreatif, hingga program Gerakan Pangan Murah.
Melalui pelaksanaan Kala Fest 2026, Kalimantan Timur diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi syariah di kawasan timur Indonesia, sekaligus menciptakan ekosistem halal yang lebih modern, inklusif, dan berdaya saing di tingkat nasional. (DFA)










