Borneoinsight.com, Samarinda – Ancaman krisis air bersih membayangi warga Samarinda akibat fenomena alam musiman berupa naiknya air laut ke alur Sungai Mahakam. Kondisi ini memaksa penyedia layanan air minum setempat untuk memutar otak demi menjaga kualitas suplai yang disalurkan kepada pelanggan.
Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Kencana Kota Samarinda merespons situasi ini dengan meningkatkan status kewaspadaan di seluruh fasilitas pengolahan. Pemantauan ketat terhadap kelayakan kimiawi, khususnya kadar garam, kini menjadi rutinitas wajib yang tak bisa ditawar.
Rembesan air payau tersebut terpantau terus bergerak ke kawasan yang lebih jauh dari muara. Berdasarkan catatan teknis, jangkauan intrusi yang sebelumnya terpusat di beberapa titik kini menunjukkan tren perluasan wilayah yang cukup signifikan.
Fasilitas pengolahan seperti IPA Pulau Atas, IPA Palaran, dan IPA Cendana memang lebih dulu merasakan dampak langsung dari fenomena ini. Namun, laporan terbaru mengonfirmasi bahwa air bernatrium tinggi itu telah menyusup jauh hingga ke area tangkapan air IPA Selili dan IPA Sungai Kapih.
Di tengah kekhawatiran yang muncul, manajemen perusahaan memastikan bahwa operasional tidak akan dihentikan secara permanen. Pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan, meski dengan pendekatan yang jauh lebih dinamis dibandingkan kondisi normal.
Sistem kerja pompa di setiap instalasi kini sepenuhnya dikendalikan oleh hasil uji laboratorium di lapangan. Keputusan untuk menghisap air baku dari sungai atau menghentikannya sangat bergantung pada fluktuasi salinitas secara langsung.
Asisten Manajer Humas Perumdam Tirta Kencana Samarinda, Cevi Wahyudi, membenarkan adanya penyesuaian prosedur operasi harian tersebut. Ia menyebutkan bahwa kadar klorida merupakan indikator tunggal yang menentukan nasib distribusi air pada hari itu.
Dalam pelaksanaannya, perusahaan menetapkan angka 250 parts per million (ppm) sebagai garis batas maksimal yang bisa ditoleransi. Batasan ini diaplikasikan guna mencegah intrusi mineral laut yang berpotensi merusak infrastruktur perpipaan dan membahayakan kesehatan konsumen.
Menurut Cevi, selama pengujian menunjukkan kandungan klorida masih bertengger di bawah ambang batas tersebut, mesin filtrasi akan bekerja memproduksi air bersih. Namun, begitu parameter melampaui angka kritis, operasional akan langsung dimatikan seketika.
Karena pergerakan salinitas sangat dipengaruhi oleh dorongan pasang surut air laut, perubahan kualitas air sungai dapat terjadi dalam hitungan menit. Oleh karena itu, tim teknis disiagakan untuk mengambil sampel air baku setiap satu jam sekali tanpa henti.
Evaluasi berkala yang dilakukan per jam ini membuat jadwal hidup-mati instalasi menjadi sangat adaptif. Tidak ada lagi jam operasional baku yang kaku selama masa perembesan air payau ini berlangsung di perairan Mahakam.
Cevi mencontohkan, apabila pada pengecekan pukul 06.00 Wita kadar garam terpantau melambung tinggi, maka proses produksi seketika ditangguhkan. Akan tetapi, jika satu jam kemudian arus sungai kembali menetralkan salinitas, mesin akan segera dihidupkan kembali.
Mekanisme buka-tutup ini dipastikan tidak akan memangkas volume debit air yang dihasilkan oleh tiap-tiap instalasi pengolahan. Penyesuaian murni hanya berdampak pada pergeseran waktu kerja mesin yang harus mengalah pada kondisi alam.
Dampak dari anomali perairan ini rupanya juga dirasakan oleh fasilitas di luar manajemen Tirta Kencana. Instalasi Pengolahan Air Anggana dilaporkan telah mengambil langkah serupa dengan menyetop sementara produksi mereka saat tingkat keasinan air meningkat.
Mengantisipasi potensi krisis suplai apabila durasi pasang laut berlangsung lebih lama dari biasanya, Perumdam telah menyiapkan rencana mitigasi berkelanjutan. Mereka menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda untuk merancang sistem distribusi darurat.
Staf Humas Perumdam Tirta Kencana Samarinda, Taufik, memaparkan bahwa pemetaan lokasi pengambilan air alternatif sudah dirampungkan. Skema ini disiapkan sebagai penyangga utama bagi kawasan permukiman yang paling parah terdampak penurunan tekanan air.
Beberapa opsi penampungan yang akan difungsikan meliputi terminal air di instalasi pengolahan terdekat hingga fasilitas umum yang dikelola di tingkat kelurahan. Selain itu, sumber air mandiri seperti sumur bor milik warga juga akan dioptimalkan untuk membantu lingkungan sekitar.
Nantinya, BPBD akan bertindak sebagai koordinator utama dalam menghimpun data warga yang membutuhkan bantuan air bersih. Berbekal pendataan yang terpusat tersebut, armada truk tangki Perumdam akan dikerahkan secara presisi ke kantong-kantong permukiman terdampak.
Taufik menekankan agar masyarakat Samarinda tetap tenang menyikapi fenomena tahunan ini dan tidak mudah termakan isu kelangkaan air. Ia memastikan jeda produksi hanya terjadi sesaat saat gelombang air asin melintas, bukan berarti sistem pengolahan akan mati total selama 24 jam penuh.
Sebagai bentuk mitigasi mandiri, manajemen mengimbau seluruh pelanggan untuk segera menampung persediaan air ketika distribusi di rumah sedang mengalir normal. Warga juga diharapkan dapat menerapkan efisiensi pemakaian air dan menunda aktivitas yang tidak mendesak hingga kualitas air baku kembali stabil. (Sin)












