Kutai Kartanegara – Borneoinsight.com – Aktivitas belajar di SD Negeri 002 Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, tetap berjalan seperti biasa. Setiap pagi, para siswa datang dan mengikuti pelajaran di enam ruang kelas yang tersedia. Namun di balik rutinitas pendidikan tersebut, sekolah menghadapi persoalan yang tidak bisa diabaikan, yakni kondisi bangunan yang mulai mengalami sejumlah kerusakan.
Sekolah yang berada di kawasan tepian dan dikelilingi karakter lahan rawa itu memiliki bentuk bangunan yang menyesuaikan kondisi lingkungan. Sejumlah bagian dibangun dengan konstruksi menyerupai rumah panggung. Seiring waktu, kondisi fisik bangunan mulai memperlihatkan tanda-tanda penurunan, mulai dari struktur yang tidak lagi sepenuhnya tegak hingga bagian atap dan plafon yang mengalami kerusakan.

Pemandangan tersebut menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian Kepala SD Negeri 002 Anggana, Sumargoto. Baru menjalankan tugas pada tahun ajaran ini, ia mengaku masih melakukan peninjauan terhadap berbagai kebutuhan sekolah. Namun dari sejumlah persoalan yang ditemukan, kondisi bangunan menjadi salah satu perhatian yang dinilai perlu segera ditindaklanjuti.
Menurut Sumargoto, sekolah tidak membutuhkan bangunan dengan fasilitas serba mewah. Hal yang paling penting adalah memastikan seluruh ruangan dapat digunakan tanpa menimbulkan rasa khawatir bagi siswa maupun guru. Lingkungan pendidikan, kata dia, harus memberikan rasa aman agar proses belajar dapat berlangsung secara optimal.
Perhatian terhadap keselamatan itu tidak terlepas dari kejadian yang pernah terjadi sebelum dirinya menjabat. Salah satu bagian plafon bangunan diketahui pernah ambruk. Peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban karena terjadi ketika sekolah sedang memasuki masa libur dan tidak ada aktivitas siswa maupun tenaga pendidik di dalam ruangan.
Meski tidak menimbulkan korban, kejadian itu menjadi peringatan bahwa kondisi bangunan perlu diperiksa secara lebih menyeluruh. Pihak sekolah berencana menyampaikan temuan tersebut kepada Dinas Pendidikan agar kebutuhan rehabilitasi dapat masuk dalam perhatian pemerintah sesuai kondisi dan prioritas yang ada.
Di sisi lain, SD Negeri 002 Anggana tetap menjalankan perannya sebagai tempat pendidikan bagi masyarakat sekitar. Sekolah tersebut memiliki enam tingkat pendidikan dengan satu rombongan belajar pada masing-masing jenjang. Jumlah peserta didik saat ini mencapai 101 orang, sedangkan penerimaan siswa baru pada tahun ajaran ini tercatat sekitar 15 anak.

Keberadaan sekolah menjadi penting bagi warga yang tinggal di kawasan sekitar, terutama mereka yang berada di wilayah tepian sungai dan jauh dari pusat permukiman. Jarak dan kondisi geografis tidak membuat minat masyarakat untuk menyekolahkan anak mereka hilang. Sekolah masih menjadi pilihan karena dinilai mampu memenuhi kebutuhan pendidikan dasar anak-anak di wilayah tersebut.
Kegiatan pembelajaran berlangsung sejak pukul 07.30 WITA hingga sekitar pukul 13.00 WITA. Selain kurikulum umum, para siswa juga mendapatkan pendidikan keagamaan serta pembelajaran berbasis kearifan lokal. Salah satu yang diajarkan adalah Bahasa Kutai, dengan bahan ajar yang telah tersedia dan digunakan dalam proses belajar mengajar.
Keterbatasan sarana pendukung masih menjadi bagian dari keseharian sekolah. Ruang laboratorium belum tersedia, begitu pula perpustakaan khusus. Koleksi buku yang dimiliki sekolah akhirnya ditempatkan di ruang-ruang kelas dengan memanfaatkan lemari yang ada. Kendati demikian, seluruh buku tetap didata sebagai inventaris agar dapat digunakan secara teratur oleh siswa.
Tantangan sekolah tidak hanya berasal dari kondisi bangunan, tetapi juga lingkungan tempatnya berdiri. Hujan deras dapat memicu masuknya air ke beberapa bagian sekolah. Salah satu kejadian bahkan membuat air masuk ke ruang kantor sehingga para guru harus segera memindahkan dokumen dan barang penting ke tempat yang lebih aman.
Karakter tanah rawa menjadi faktor yang menurut Sumargoto perlu diperhitungkan dalam pembangunan maupun perbaikan bangunan sekolah. Ia menilai kekuatan struktur tidak bisa dilepaskan dari kondisi pondasi karena karakter tanah di kawasan tersebut berbeda dengan wilayah yang memiliki permukaan tanah lebih keras dan stabil.
Meski sarana masih terbatas, sekolah berupaya mencari cara agar kegiatan operasional tetap berlangsung efisien. Salah satunya melalui penggunaan panel surya sebagai sumber energi. Selain mengandalkan jaringan PLN, sekolah memanfaatkan tenaga matahari ketika kondisi cuaca memungkinkan sehingga konsumsi listrik dari jaringan utama dapat ditekan.
Bagi pihak sekolah, perbaikan fisik bukan sekadar persoalan membuat bangunan terlihat lebih baik. Ada kebutuhan yang jauh lebih penting, yakni memastikan ruang tempat anak-anak menimba ilmu tidak menempatkan mereka dalam risiko. “Kalau barang rusak mungkin bisa diganti. Tapi manusia harus diselamatkan. Itu yang paling penting,” ujar Sumargoto.
Kini, di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi geografis yang tidak mudah, kegiatan pendidikan di SD Negeri 002 Anggana tetap berjalan. Suara siswa masih memenuhi ruang-ruang kelas setiap hari, sementara para guru terus menjalankan tugas mereka. Harapannya sederhana: perhatian terhadap kondisi sekolah dapat segera diwujudkan dalam langkah perbaikan, sehingga anak-anak di Anggana memiliki tempat belajar yang lebih aman, nyaman, dan layak untuk menunjang masa depan mereka.









