Borneoinsight.com, Samarinda – Langkah strategis kembali diambil oleh Pemerintah Kota Samarinda untuk mengakhiri krisis banjir menahun yang kerap melumpuhkan kawasan Jalan Pasundan, area sekitar Rumah Sakit Dirgahayu, hingga Jalan Merbabu melalui pembangunan sodetan di Jalan Gunung Cermai.
Proyek infrastruktur tersebut dirancang khusus sebagai jalur pintas pembuangan limpasan air hujan, yang nantinya akan bermuara langsung untuk memecah debit menuju badan Sungai Mahakam.
Kendati menjanjikan solusi tata air jangka panjang, dimulainya pekerjaan fisik ini memberikan imbas langsung terhadap kelancaran mobilitas warga di perlintasan Jalan Gajah Mada dan Jalan RE Martadinata.
Menyikapi potensi penyempitan jalan, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Samarinda langsung mengambil langkah mitigasi dengan menerapkan manajemen rekayasa kendaraan.
Kanit Turjawali Satlantas Polresta Samarinda, Iptu Ismail Marzuki, menegaskan bahwa skema penataan arus ini telah melewati tahapan kajian menyeluruh bersama Dinas Perhubungan setempat.
“Berdasarkan perintah dari Pak Kasat Lantas, secara teknis Andalalinnya itu sudah dirapatkan,” ujar Ismail.
Pada fase eksekusi awal, aktivitas konstruksi difokuskan memakan bahu jalan di sisi sebelah kanan dari arah Jalan Gajah Mada menuju Jalan RE Martadinata, yang mana lokasi titik penggaliannya berseberangan langsung dengan gedung Bank Tabungan Negara (BTN).
“Untuk pelaksanaan rekayasa proyek drainase yang dikerjakan pertama itu di sisi sebelah kanan dari Gajah Mada ke RE Martadinata, tepatnya di depan seberangnya Bank BTN,” jelasnya.
Meskipun aktivitas alat berat beroperasi secara intensif, pihak berwenang memastikan bahwa ruas penghubung utama tersebut tidak ditutup secara menyeluruh bagi pengguna jalan umum.
Akses satu lajur tetap disediakan agar sistem sirkulasi kendaraan pribadi tidak lumpuh total, meski para pengemudi diminta memaklumi adanya penyendatan arus lalu lintas akibat berkurangnya kapasitas ruang jalan.
“Untuk roda empat dan roda dua tetap bisa melintasi depan trafik Cermai, cuma terjadi perlambatan. Ada dimensinya, satu jalur dibagi dua sisi kendaraan,” kata Ismail.
Sementara itu, kebijakan sterilisasi jalur diberlakukan secara tegas bagi angkutan niaga bersumbu berat atau kendaraan roda enam ke atas yang dilarang keras melintasi zona galian.
Armada berdimensi raksasa tersebut diwajibkan mengambil rute memutar melalui koridor Jalan Ir. H. Juanda demi menekan beban tonase aspal sekaligus menjaga keselamatan operasional pekerja di lokasi.
“Untuk roda enam bisa lewat Juanda,” ucapnya.
Kepolisian juga memetakan potensi penumpukan volume kendaraan yang diproyeksikan akan mencapai titik puncaknya saat jam pergerakan sekolah di pagi hari dan waktu kepulangan pekerja pada sore hari.
“Imbauannya kepada pengguna jalan, khususnya memakai jalan yang ke Gajah Mada dan sebagainya agar antisipasi jam-jam padat dari jam pagi antara sekolah sampai sore, dari atas jam 3 sampai jam 6 sore,” ungkap Ismail.
Terkait jadwal konstruksi yang dipacu selama 24 jam nonstop, aktivitas pembongkaran jalan sejatinya direncanakan mulai 24 Agustus, namun baru bisa dieksekusi di lapangan pada hari Rabu.
“Pelaksanaan itu di tanggal 24, tapi agak molor pelaksanaan di hari Rabu hari ini,” ungkap Ismail mengenai dinamika jadwal operasi pengerjaan.
Penutupan satu lajur pada tahap ini diproyeksikan hanya berlangsung hingga kisaran 28 Agustus. “Ditutup total cuma satu lajur yang bisa masih untuk arus lalu lintasnya. Insyaallah mudah-mudahan satu sampai dua hari bisa cepat dibuka kembali,” harapnya.
Rencananya, begitu tahap pertama usai, zona galian akan berpindah menyasar sisi arah sebaliknya. “Nanti sisi sebelah kirinya atau dari Jalan RE Martadinata ke arah Gajah Mada setelah minggu depannya. Kita lihat evaluasi pertama minggu pertama pelaksanaan pekerjaan,” tandas Ismail menutup penjelasan. (Sin)












