Borneoinsight.com, Samarinda – Langkah antisipatif dalam menangkal potensi penyebaran paham radikal dan kejahatan berbasis digital terus digencarkan di lingkungan sekolah Kota Samarinda. Upaya perlindungan terhadap generasi muda ini diwujudkan melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang menyasar para pelajar kejuruan.
Kegiatan edukatif tersebut berlangsung pada Selasa (3/11/2026) mulai pukul 08.00 WITA. Bertempat di Ruang Aula SMKN 15 Samarinda yang beralamat di Jalan Ir. H. Nusyirwan Ismail, M.Si, RT.15/RW.04, Kelurahan Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang, acara diseruakan oleh antusiasme ratusan siswa-siswi yang hadir.
Sinergi lintas institusi terlihat jelas dari deretan tokoh yang mendampingi jalannya acara. Kepala KUA Lok Bahu, Lalu Herman, S.HI, MH, hadir langsung bersama Kepala Sekolah SMKN 15 Samarinda, Yuli Agustina, M.Pd, serta Nuning, untuk memberikan penguatan karakter dan pandangan keagamaan yang inklusif bagi peserta didik.
Sesi pembekalan utama dipandu oleh Briptu Yudika Adrian, SH, selaku perwakilan dari Tim Idensos 88 AT Satgaswil Kaltim. Dalam paparannya, ia menyoroti fenomena kemajuan teknologi informasi yang ibarat pisau bermata dua bagi tumbuh kembang remaja.
Ia memperingatkan bahwa kemudahan interaksi di era modern berpotensi menjadi celah bahaya jika tidak diimbangi dengan kearifan berliterasi. “Dunia digital saat ini memberikan kemudahan koneksi, berbagi informasi, dan peluang positif, tetapi juga menyimpan ancaman serius seperti hoaks, hate speech, radikalisme, kekerasan, dan manipulasi yang dapat mempengaruhi pengguna jika tidak disikapi dengan bijak,” terangnya.
Dalam kesempatan itu, mekanisme pergeseran mindset dari sekadar intoleransi menuju tindakan kriminal turut dikupas secara mendalam. “Paham radikalisme adalah proses bertahap yang sering kali berawal dari sikap intoleransi, berkembang menjadi radikalisme, memuncak pada ekstremisme berbasis kekerasan, hingga menjadi terorisme,” tegas Yudika.
Briptu Yudika juga membeberkan jurang pemisah yang mendasar antara kemampuan berpikir secara rasional dan jebakan pola pikir doktriner. “Berpikir kritis berfokus pada pencarian kebenaran secara akal sehat, terbuka pada dialog, menghargai perbedaan, serta berorientasi pada solusi damai; sedangkan ekstremisme bersifat tertutup, menolak dialog, mengabaikan fakta, menganggap pihak lain sebagai musuh, dan membenarkan penggunaan kekerasan,” urainya.
Guna mencegah penyusupan doktrin berbahaya tersebut, ia mendorong para siswa untuk aktif membentengi diri serta berani bersuara di lingkungan sekolah. “Pencegahan dapat kita lakukan sejak dini, yaitu dengan menolak bullying, menyaring informasi secara kritis, menghargai keberagaman, menjaga persatuan, serta tidak diam ketika melihat tindakan intoleransi atau kekerasan. Apabila menemukan hal itu, adek-adek diharapkan dapat langsung melaporkan ke guru atau kepala sekolah,” imbaunya.
Sebagai penutup, peringatan khusus dialamatkan pada kebiasaan remaja saat mengakses media hiburan modern yang rentan disusupi agitasi negatif. “Saat ini, paham radikalisme dapat masuk kepada adik-adik melalui berbagai cara, salah satunya melalui hal-hal yang kita sukai, seperti game online. Dalam permainan berunsur kekerasan, kita sering tidak menyadari berinteraksi dengan orang asing bahkan sampai mengucapkan kata-kata kasar. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dan bijak dalam memilih permainan serta berinteraksi di dunia game,” pesan Yudika memungkasi materi. (Sin)












