Borneoinsight.com, Samarinda – Dampak musim kemarau panjang yang disertai meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini mulai dirasakan nyata oleh penduduk Kota Samarinda.
Fenomena kabut asap tipis perlahan mulai memapar beberapa wilayah pemukiman, menandai adanya perubahan kondisi atmosfer kota.
Hasil evaluasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejauh ini menunjukkan parameter kualitas udara daerah tersebut masih bertahan pada level sedang.
Menanggapi situasi iklim yang berpotensi memburuk, Pemerintah Kota Samarinda langsung mengambil langkah proaktif guna membendung dampaknya pada kesehatan publik.
Upaya respons cepat ini digalang untuk meminimalkan paparan polutan asap sebelum menimbulkan dampak klinis yang lebih meluas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, menyampaikan bahwa kualitas udara secara teoritis memang belum masuk zona bahaya.
Meskipun demikian, ia mengonfirmasi adanya perubahan fisik udara yang mulai dirasakan langsung oleh warga saat berada di ruang terbuka.
Gangguan ringan seperti mata perih dan pandangan yang terbatas akibat gumpalan asap tipis sudah mulai dikeluhkan sebagian masyarakat.
“Samarinda berdasarkan pantauan dari BMKG kategorinya sedang, artinya masih aman. Namun demikian kita semua bisa merasakan bahwa mulai ada agak perih, kemudian juga mulai ada kabut,” kata Suwarso.
Mengingat adanya dinamika perubahan lingkungan ini, Pemkot Samarinda meminta masyarakat untuk senantiasa tanggap dan tidak mengabaikan kondisi sekitarnya.
Perlindungan ekstra diprioritaskan bagi segmen populasi yang rentan, seperti anak-anak serta warga lanjut usia (lansia).
Penggunaan masker saat terpaksa bepergian sangat dianjurkan untuk menekan masuknya partikel asap ke saluran pernapasan kelompok risikotinggi tersebut.
Di sisi lain, pembatasan mobilitas di luar gedung sangat disarankan bagi masyarakat yang tidak memiliki urusan mendesak.
“Untuk kelompok yang rentan seperti anak-anak, lansia, itu tetap kalau aktivitas keluar rumah menggunakan masker. Atau kalau tidak ada kegiatan yang penting sebaiknya tidak keluar rumah,” jelas Suwarso.
Selain perlindungan mandiri, fokus pemerintah daerah juga tertuju pada potensi merangkaknya angka penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Sinergi intersektoral telah dibangun antara DLH dan Dinas Kesehatan Kota Samarinda untuk memantau grafik perkembangan penyakit pernapasan.
Seluruh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan faskes pembantu diimbau bersiap memberikan tindakan medis awal jika terjadi lonjakan kunjungan pasien.
“Saya sudah komunikasikan dengan Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda untuk melakukan pemantauan termasuk melakukan mitigasi, apakah tingkat persebaran penyakit ISPAnya juga meningkat,” tegas Suwarso.
Pemantauan berkala mencatat bahwa kawasan Samarinda Utara dan Palaran sempat mengalami penurunan kualitas udara hingga level buruk sebelum akhirnya kembali membaik ke status sedang pada siang hari.
Sementara itu, untuk insiden kebakaran lahan di kawasan perbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara, penanganan titik api telah berhasil dilakukan secara kolaboratif bersama tim pemadam lintas daerah. (Sin)












