Samarinda – Borneoinsight.com – Suasana berbeda terasa di Lobby Midtown Hotel Samarinda, Senin (27/7/2026). Sejumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) berkumpul dalam sebuah kegiatan yang memadukan kepedulian sosial, seni, dan keceriaan untuk memperingati Hari Anak Nasional 2026.
Mengusung tema “Goresan Inklusi, Seni dari Hati”, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi sekitar 30 anak berkebutuhan khusus untuk menikmati suasana bersama sekaligus menyalurkan kreativitas mereka melalui berbagai aktivitas.
Tak hanya didampingi orang-orang terdekat, para peserta juga diajak menikmati rangkaian kegiatan yang dirancang secara interaktif. Bernyanyi, menari, hingga membuat lukisan menjadi pilihan aktivitas yang membuat suasana acara semakin hidup.
Deretan kegiatan itu membuat anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam setiap proses. Mereka diberi kesempatan untuk menentukan cara berekspresi masing-masing tanpa tuntutan harus menghasilkan karya dengan bentuk tertentu.
Di atas media styrofoam, beragam warna kemudian dituangkan menjadi karya yang memiliki cerita tersendiri. Bagi sebagian peserta, aktivitas melukis menjadi cara sederhana untuk menunjukkan apa yang mereka rasakan sekaligus mengenalkan sisi kreatif yang mereka miliki.
Tawa dan semangat peserta pun mewarnai jalannya acara. Interaksi antara anak-anak, pendamping, dan pihak hotel menciptakan atmosfer yang akrab sehingga kegiatan berlangsung jauh dari kesan formal.
Bagi Midtown Hotel Samarinda, peringatan Hari Anak Nasional tidak semata-mata menjadi agenda seremonial. Momen tersebut dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman yang dapat memberi ruang lebih luas bagi anak berkebutuhan khusus agar merasa diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk beraktivitas.
General Manager Midtown Hotel Samarinda, Imam Mustofa, menuturkan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Ia menilai setiap anak memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda. Karena itu, lingkungan sekitar perlu memberikan dukungan yang cukup agar perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk belajar, berkarya, maupun menunjukkan kemampuan.
Menurut Imam, perayaan Hari Anak Nasional menjadi kesempatan untuk kembali menumbuhkan kesadaran bahwa hak anak tidak mengenal perbedaan kondisi. Semua anak berhak mendapatkan ruang untuk berkembang dan memperoleh pengalaman positif bersama lingkungannya.
Pesan mengenai kesetaraan itu kemudian diterjemahkan melalui kegiatan yang sederhana, tetapi memiliki makna kuat. Melalui musik, gerakan, dan lukisan, para peserta diberikan kebebasan untuk menunjukkan identitas serta imajinasi mereka dengan cara masing-masing.
Karya-karya yang lahir selama kegiatan pun tidak sekadar dipandang sebagai hasil aktivitas melukis. Setiap goresan dianggap sebagai bentuk keberanian untuk tampil, mencoba sesuatu yang baru, dan menunjukkan bahwa kreativitas dapat tumbuh dalam berbagai bentuk.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara pihak hotel, komunitas, anak-anak, dan para pendamping. Dari interaksi tersebut, tumbuh pesan bahwa upaya menciptakan lingkungan inklusif membutuhkan keterlibatan bersama, bukan hanya dari satu pihak.
Midtown Hotel Samarinda berharap kegiatan “Goresan Inklusi, Seni dari Hati” dapat memberikan kesan positif bagi para peserta sekaligus menjadi bagian dari langkah berkelanjutan untuk membangun kepedulian sosial. Semangat yang dibawa dalam peringatan Hari Anak Nasional ini diharapkan terus hidup melalui berbagai kegiatan yang membuka lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk tumbuh, berekspresi, dan berkarya.












