Borneoinsight.com, Samarinda – Keluarga besar pelajar sekolah menengah pertama yang terperosok ke dalam arus perairan Mangkupalas kini harus menerima kenyataan pahit. Remaja yang sebelumnya dinyatakan hilang di alur sungai tersebut akhirnya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.
Peristiwa nahas itu semula bermula di area perairan Jalan Tanjung Aru, Gang Awang Abdullah, lingkungan RT 14, Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang.
Sejak insiden pertama kali dilaporkan, armada penyelamat gabungan langsung diterjunkan ke lokasi untuk menyisir setiap sudut sungai yang dicurigai menjadi titik hanyutnya korban.
Memasuki hari kedua operasi pencarian pada Rabu (7/10/2026), kerja keras seluruh unsur di lapangan akhirnya membuahkan hasil saat hari telah berganti malam.
Tubuh korban berhasil diidentifikasi keberadaannya sekitar pukul 20.36 Wita oleh regu penolong yang bertugas menyisir area perairan.
Titik penemuan jasad tersebut diperkirakan berjarak sekitar 191 meter mengarah ke hilir apabila dihitung dari lokasi kejadian perkara (LKP).
Kondisi fisik korban saat pertama kali dijangkau oleh personel penyelamat terpantau mengapung di perairan tepat di sebelah sebuah kapal angkut jenis LCT.
Kapal LCT tersebut kebetulan tengah berada di koridor jalur navigasi yang mengarah ke bagian hilir aliran Sungai Mahakam.
Koordinator Pos SAR Samarinda, Aries Setiawan, mengonfirmasi keberhasilan penemuan target pencarian tersebut dalam laporan resminya.
“Dapat kami sampaikan tim SAR gabungan telah mendapatkan korban di jarak kurang lebih 191 meter dari LKP menuju ke hilir, pada pukul 20.36 Wita,” papar Aries.
Mengenai koordinat pasti saat personel mendekat ke sasaran, Aries menegaskan bahwa letak tubuh remaja tersebut berdampingan langsung dengan badan kapal tongkang.
“Untuk posisi korban, persis di sebelah LCT, di perairan menuju ke arah hilir,” kata Aries menerangkan posisi visual di lapangan.
Berdasarkan kesaksian anggota regu evakuasi yang mengevakuasi tubuh korban ke atas perahu, jasad remaja itu berada dalam posisi tubuh terlentang di permukaan air.
“Untuk posisi korban saat penemuan, ini diinformasikan dari anggota tadi posisi terlentang,” ungkapnya menguraikan kondisi fisik saat diangkat.
Keberhasilan penemuan pada malam hari ini merupakan kelanjutan dari berbagai siasat teknis yang telah diterapkan semenjak pagi hari.
Mengingat kondisi perairan Mahakam yang kerap berarus deras dan menyimpan banyak material bawah air, tim SAR sempat mengkhawatirkan tubuh korban tersangkut di dasar sungai.
Guna menjawab kendala tersebut, aparat memutuskan untuk mengoperasikan instrumen khusus pelacak bawah permukaan bernama V-Search sejak pukul 07.00 Wita.
“Pagi-pagi, jam 7 pagi kami melaksanakan penurunan alat V-Search. Ini karena ada kemungkinan korban terjebak di bawah air,” sebut Aries.
Instrumen V-Search bekerja secara manual dari atas perahu penyelamat dengan sistem menyapu dasar sungai menggunakan deretan piranti berstruktur menyerupai kail.
“V-Search sendiri sistemnya menyapu. Nanti ada model seperti kail yang dioperasikan secara manual oleh personel yang ada di perahu,” tutur Aries menjabarkan mekanisme mekanis alat tersebut.
Di samping pemindaian mekanis, juru mudi armada air SAR juga membuat olah gerak melingkar untuk menghasilkan manuver pusaran arus di sekitar lokasi jatuhnya korban.
“Kalau misalnya ada korban atau objek yang terjebak di bawah, dengan putaran arus itu nantinya objek bisa terlempar dan muncul di tempat lain,” sambung Aries mengenai taktik hidrolika kapal.
Setelah seluruh proses evakuasi dari perairan rampung dilakukan, tim SAR langsung berkoordinasi secara intensif dengan perwakilan pihak keluarga.
Pihak keluarga memutuskan untuk tidak membawa jenazah anak mereka ke instalasi forensik rumah sakit melainkan meminta pemulangan langsung.
“Atas permintaan dari keluarga korban, korban yang kita temukan tadi langsung dibawa ke rumah duka,” tutup Aries sekaligus menandai selesainya mandat operasi penyelamatan gabungan di kawasan Mangkupalas. (Sin)












